Tampilkan postingan dengan label challeges. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label challeges. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 September 2013
Day 3 (Marathon in Day 5): Letter for 60 years old ME
Dear Sisca,
Hei apa kabar? Maafkan aku yang berjanji untuk menulis surat padamu 3 hari yang lalu. Mohon maafkan :( Bukan berarti aku lupa padamu, pada diriku sendiri. Tentu saja aku ingat padamu. Ah, kumohon jangan marah begitu. Aku tahu aku terlalu menyibukkan diriku dengan berbagai banyak hal, dan kuyakin kamu juga tahu alasannya. Namun saat itu aku belum sadar bahwa beban-beban aktivitas dan segala rasa lelah itu kini amat nampak diwajahmu. Lihatlah tampak banyak kerutan diwajahmu di usia yang ke 60 ini.
Hampir lupa, ijinkan aku mengucapkan selamat padamu karena telah berhasil melewati lebih dari setengah abad usiamu di dunia ini. Selamat, karena itu artinya kamu berhasil melawan godaan untuk mengakhiri hidupmu sebelum waktunya tiba. Selamat, karena itu berarti kamu berhasil mengatasi permasalahan-permasalahan dalam hidup dan aku yakin saat ini kamu pasti sudah lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Oh ya, apa kabar anak-anak dan cucu-cucumu? Aku yakin mereka cantik-cantik dan tampan-tampan, ya meskipun di masa yang sekarang ini masihlah rahasia bagiku untuk mengetahui siapakah pria beruntung yang berhasil mendapatkan hatimu. Ya, hatiku juga. Hihihi. Rasanya lucu sekali menulis surat ini, seperti sedang berbicara dengan diriku sendiri. Padahal memang begitulah sesungguhnya.
Kamu pasti juga sudah berhasil mendidik anak-anakmu dengan baik yah? Mereka sukses pastilah karenamu dan suamimu. Apakah diusiamu yang ke-60 ini kamu masih direpotkan oleh anakmu untuk menjaga anak-anak mereka? Hei aku penasaran dengan cucu-cucuku, apakah mereka sama lucu dan pintarnya dengan anak-anak sekolah minggu yang ku ajar saat ini? Ah, seandainya saja Tuhan mengijinkan aku bertemu dengan kalian walau sebentar. Aku ingin tahu juga keadaan di masa depan seperti apa, sepertinya lebih canggih ya?
Nanti kusisakan handphone jadulku dan segala gadgetku saat ini untukmu, anggap saja kenang-kenangan di masa lalu. Kuyakin ditempatmu saat ini pasti bertebaran gadget-gadget yang jauh lebih canggih, teknologi berkembang sangat pesat. Tapi barang-barang jadul pun ku yakin tak kalah uniknya dan pasti akan bernilai sangat tinggi.
Ah, baiklah. Masih banyak yang harus kulakukan. Ada dua tantangan lagi yang harus kuselesaikan hari ini. Doakan aku agar sukses yah sehingga bisa membuatmu di masa yang akan datang menjadi lebih baik. Sampaikan salamku pada anak-anak dan cucu-cucuku di masa depan dan peluk hangatku bagi suamiku (well, walaupun itu masih rahasia. Eh, beritahu aku dong, siapa suamiku, penasaran. Hehe. :p).
Sudah ya, jaga dirimu dan kesehatanmu baik-baik. Ingat usiamu tak muda lagi jadi batasi aktivitasmu itu. Hahaha.
Salam sayang,
Dari dirimu di masa lalu
@ichbinsisca
***
Label:
challeges
Senin, 02 September 2013
Day 2: Letter for 4 years old Sisca
Dear Sisca,
Ketika kamu membaca surat ini pastilah sudah terlambat, karena surat ini ditulis dari dirimu sendiri di masa depan ketika kamu telah dewasa. Jangan pernah menyesali apa yang dikatakan dalam surat ini karena semuanya telah terjadi dan saatnya fokus pada masa depan. Sekiranya waktu dapat terulang kembali, maka lakukanlah.
Mungkin surat ini adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk meminta maaf. Maaf karena di masa depanmu nanti, kamu tak akan lagi mengingat masa kecilmu. Hanya ada kata mungkin. Mungkin masa kecilmu bahagia, mungkin juga tidak. Mungkin kau memiliki banyak teman, mungkin juga tidak. Mungkin dulu keluargamu berkecukupan, mungkin juga tidak. Semuanya serba mungkin jika tak ada yang kau ingat. Maka camkanlah ini, jika ada mesin waktu dan aku dapat kembali dimasa kita berusia 4 tahun, maka aku akan merekam segala kenangan di masa lalu agar kelak ada hal-hal yang dapat aku ceritakan untuk anak-anakku kelak. Entah itu cerita bahagia sebagai hiburan bagi mereka maupun cerita sedih sebagai gambaran bahwa hidup itu keras dan bahwa beruntungnya mereka memiliki ibu sepertimu.
Dear 4 years old Sisca,
Nikmatilah masa kecilmu saat ini ya, rekam semua memori agar aku bisa mengingatnya saat ini. Yah? Hmm, baiklah saya tak akan menceritakan hal-hal buruk yang kau lakukan semasa kecil kepada orang lain, tapi coba ingat saja kenangan-kenangan yang manis dan indah ya.
Satu hal yang kuingat dari masa lalu mu, bahwa ketika ulang tahunmu tiba, kau selalu diajak untuk berfoto di studio. Saat itu kau belum mahir bergaya yah. Hahaha. Tapi betapa menyedihkannya seandainya kau tahu bahwa sejak usiaku 10 tahun, kebiasaan itu dihilangkan. Ah, kini tak ada kebiasaan untuk menyambut ulang tahun, diberikan kado saja tak pernah. Terakhir kuingat, jika tidak salah, kau mendapat kado di usia 2 tahun yah. Hehehe. Sudahlah, aku tak ingin lanjutkan lagi pembicaraan ini karena tiba-tiba saja aku bersedih.
Sekali lagi kuucapkan, selamat berbahagia menjadi anak-anak. Kau belum tahu sulitnya menjadi dewasa, meskipun kelak kau akan mengetahuinya. Jadi aku hanya ingin berpesan: Berbahagialah Sisca, nikmati masa kecilmu.
Salam sayang dari dirimu di masa depan,
@ichbinsisca
***
30 days blog challenge day 2: Make a letter for 4 years old YOU.
Ketika kamu membaca surat ini pastilah sudah terlambat, karena surat ini ditulis dari dirimu sendiri di masa depan ketika kamu telah dewasa. Jangan pernah menyesali apa yang dikatakan dalam surat ini karena semuanya telah terjadi dan saatnya fokus pada masa depan. Sekiranya waktu dapat terulang kembali, maka lakukanlah.
Mungkin surat ini adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk meminta maaf. Maaf karena di masa depanmu nanti, kamu tak akan lagi mengingat masa kecilmu. Hanya ada kata mungkin. Mungkin masa kecilmu bahagia, mungkin juga tidak. Mungkin kau memiliki banyak teman, mungkin juga tidak. Mungkin dulu keluargamu berkecukupan, mungkin juga tidak. Semuanya serba mungkin jika tak ada yang kau ingat. Maka camkanlah ini, jika ada mesin waktu dan aku dapat kembali dimasa kita berusia 4 tahun, maka aku akan merekam segala kenangan di masa lalu agar kelak ada hal-hal yang dapat aku ceritakan untuk anak-anakku kelak. Entah itu cerita bahagia sebagai hiburan bagi mereka maupun cerita sedih sebagai gambaran bahwa hidup itu keras dan bahwa beruntungnya mereka memiliki ibu sepertimu.
Dear 4 years old Sisca,
Nikmatilah masa kecilmu saat ini ya, rekam semua memori agar aku bisa mengingatnya saat ini. Yah? Hmm, baiklah saya tak akan menceritakan hal-hal buruk yang kau lakukan semasa kecil kepada orang lain, tapi coba ingat saja kenangan-kenangan yang manis dan indah ya.
Satu hal yang kuingat dari masa lalu mu, bahwa ketika ulang tahunmu tiba, kau selalu diajak untuk berfoto di studio. Saat itu kau belum mahir bergaya yah. Hahaha. Tapi betapa menyedihkannya seandainya kau tahu bahwa sejak usiaku 10 tahun, kebiasaan itu dihilangkan. Ah, kini tak ada kebiasaan untuk menyambut ulang tahun, diberikan kado saja tak pernah. Terakhir kuingat, jika tidak salah, kau mendapat kado di usia 2 tahun yah. Hehehe. Sudahlah, aku tak ingin lanjutkan lagi pembicaraan ini karena tiba-tiba saja aku bersedih.
Sekali lagi kuucapkan, selamat berbahagia menjadi anak-anak. Kau belum tahu sulitnya menjadi dewasa, meskipun kelak kau akan mengetahuinya. Jadi aku hanya ingin berpesan: Berbahagialah Sisca, nikmati masa kecilmu.
Salam sayang dari dirimu di masa depan,
@ichbinsisca
***
30 days blog challenge day 2: Make a letter for 4 years old YOU.
Label:
challeges
Minggu, 01 September 2013
Day 1: About Myself
Yeay! It's September 1st. Sudah menunggu bulan ini karena ada 2 hal yang dikerjakan mulai hari ini, yaitu:
1. Tantangan 30 hari nge-blog (yang ini iseng-iseng, efek ketidak konsistenan menulis di tahun ini)
2. Mulai belajar persiapan untuk TOEFL Prediction Test (ini serius, testnya bulan Februari dan meskipun judulnya cuma "Prediction", everything should be perfect lah ya. :))
Here is the challenge:
Jadi marilah segera memulai tantangan hari pertama: Menceritakan tentang diri sendiri. Well, seperti yang dapat pada halaman Writer di blog saya ini sudah ada profil saya yang cukup jelas. Kalau masih belum jelas, silakan buka halaman Contact terus buka link Linkedin saya, profile lengkap beserta portofolio tersedia. Hahaha. Oke, ini sebenarnya mulai 'ngawur' baiklah kita mulai saja dengan tantangan yang sesungguhnya:
Di saat santai bersama teman-teman kala itu, seorang teman saya bertanya demikian:
"Sis, impian lo mau ke Jeman yah?"
Tanpa ingin membesar-besarkan mimpi itu, saya hanya menjawab 'iya'. Saya tidak ingin terkesan sombong dengan mimpi itu. Tentunya bukanlah hal yang salah bila seseorang memiliki mimpi, kan? Namun tentunya saya tidak ingin merasakan sakitnya terjatuh bila suatu hari nanti impian saya tidak dapat terwujud. Setidaknya, saya hanya akan menghadapi penolakan. Lain halnya bila mimpi itu saya besar-besarkan hingga ketika saya gagal, maka semua orang akan mencibir saya. Penderitaan saya tentunya bertambah: Selain kecewa karena penolakan, tentunya merasa sakit karena mendapat cibiran.
Oh ya, sebelum tulisan ini dilanjutkan, mohon ingatkan saya bila tulisan saya mulai keluar dari topik. Kembali ke masalah tersebut, kemudian pembicaraan kami beralih kepada masa depan dan melanjutkan pendidikan. Ya, memang keinginan saya untuk pergi ke Jerman adalah untuk melanjutkan pendidikan di sana. Ketika salah seorang teman saya yang lainnya menimpali:
"Buat apa lagi kuliah kalau tujuan sudah dicapai?"
Yang lainnya:
"Ketika seseorang semakin bertambah usia, maka standar dari goals yang ingin dicapainya akan berkurang dengan sendirinya."
Kedua kalimat ini tentunya membuat saya berpikir. Namun toh, dasar saya wong ambisius begini mau dibilang gimana juga tetap akan ngotot dengan mimpi tesebut. Untunglah salah satu pendapat lainnya keluar:
"Setidaknya, kalau memiliki mimpi yang tinggi, usaha yang akan kita lakukan juga makin tinggi. Dengan begitu, meskipun goals utama tidak tercapai, pasti kita akan mendapatkan goals yang mendekati goals utama tersebut."
Dengan kata lain, jika saya ingin melanjutkan studi di Jerman dan gagal. Mungkin dengan usaha yang telah saya lakukan, saya akan tetap bisa melanjutkan studi di luar negeri, meskipun bukan di Jerman. Salah satu pengalaman saya terkait hal ini adalah ketika mengubur mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kalau anak-anak ditanya mengenai cita-cita mereka ketika sudah besar, banyak yang akan menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot, insinyur, polisi, dan sebagainya. Namun seiring bertambah luasnya wawasan bahwa bidang pekerjaan itu luas, maka tidak sedikit dari mereka yang beralih dari cita-cita semasa kanak-kanak.
Saya termasuk orang yang memelihara cita-cita itu dengan baik, bahkan ketika saya sudah kuliah hingga di semester 3. Cita-cita menjadi dokter sudah saya inginkan sejak TK, dan keinginan itu pun didukung (lebih tepatnya diarahkan) oleh Papa. Namun nasib berkata lain, tapi toh sekarang saya adalah Calon Apoteker. Sebuah profesi yang serumpun dengan ilmu kedokteran. Mungkin itulah yang tadi dikatakan teman saya, bahwa jikalau gagal pun kegagalan itu akan tetap manis.
Ambisius? Sangat! Menjadi orang yang sangat ambisius terkadang menyusahkan diri sendiri. Dalam hal saya, jika ada hal (lebih sering terkait kegiatan/aktivitas) yang saya inginkan tapi ada halangan untuk berpartisipasi, wah bisa-bisa susah tidur. Entahlah sifat ambisius ini murni karakter atau benarkah nasib. Berdasarkan shio dan zodiak, percaya atau tidak percaya, baiklah kita lihat dari sisi keilmuannya saja: Saya bershio Kambing dan zodiak saya adalah Capricorn. Dari beberapa sumber bacaan kerap kali menuliskan bahwa orang bershio Kambing adalah orang yang keras kepala. Orang yang berzodiak Capricorn adalah orang yang ambisius. Yah, istilahnya kera kepalanya kuadrat. Hahaha. Jika kalian yang membaca tulisan ini pernah mengenal saya, bagaimana menurutmu? ;)
Ah ya, mungkin saya sebaiknya memulai tulisan ini dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Meskipun profile saya sudah tersedia di blog ini, entah mengapa dengan topik ini rasanya kurang afdhol tanpa memperkenalkan diri.
Panggil saja saya Sisca. Saya hanyalah seorang mahasiswa farmasi tingkat akhir yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta. Jika ini adalah tulisan pertama yang kamu baca di blog saya, maka saya sarankan kamu membaca halaman Writer, setelah kamu membaca tulisan ini. Saya juga seorang daily online worker yang bekerja di salah satu publishing di Indonesia. Tunggu! Saya yakin kalian pasti ingin bertanya Bagaimana bisa seorang mahasiswa farmasi kuliah sambil bekerja? Hahaha. Salah satu hal yang penting adalah Time Management! Di samping mahasiswa dan pekerja, saya juga masih menjalankan hobby menulis serta hobby terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Menarik kan? B-)
Jika melihat apa yang sudah saya lakukan selama ini, saya cukup puas dan bersyukur. Tapi, jika melihat pada apa yang terkadang orang lain lakukan, orang-orang hebat yang ada disekitar saya, saya iri. Rasanya kok saya belum bisa seperti mereka ya, sukses. Setidaknya, saya bersyukur saya menyadari bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang hebat seperti mereka. Saya hanya perlu menjadikan mereka motivasi dan sumber-sumber ambisi saya yang lainnya.
Everything must be perfect! Yap, perfeksionis. Lagi-lagi terkadang sifat yang satu ini jadi penolong sekaligus boomerang bagi saya sendiri. I know you know what I mean.
Terakhir, saya adalah orang yang bebas. Bebas melakukan apa yang saya inginkan, saya tak suka adanya larangan dan hambatan. Lagi: Semuanya harus berjalan semulus dan sesempurna mungkin. Tapi, bukan hidup namanya kalau tidak ada hambatan. Setuju?
Tolong garisbawahi makna kata Kebebasan dalam kamus pribadi saya ini: Bebas Bertanggung Jawab.
Jika sudah mengerti, baiklah kita lanjutkan. Saya ingin bebas mengikuti setiap kegiatan dan aktivitas yang saya inginkan dan, hambatan terbesar saya dalam hal ini adalah: Orangtua.
Saya mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan sejak SMP: mengikuti paduan suara, menjadi petugas upacara bendera, mengikuti Pusakris. Hobby ini berlanjut ketika SMA: Saya bahkan pernah mengikuti semua Club di SMA, baik itu Matematika Club, Kimia Club, Biologi Club, Fisika Club, English Club, masih aktif di Pusakris, pernah ikut Tim Kompas MuDA, jadi tim tari tradisional di sekolah, ikut lomba/olimpiade dan beberapa pentas tari, dan yang paling menyita waktu dan tenaga saya adalah aktif di MPK (Musyawarah Perwakilan Kelas), sebuah kelembagaan yang mengawasi segala kegiatan OSIS.
Dan dari semua kegiatan tersebut, sebagian besar saya lakukan TANPA ijin orangtua. Please, ini bukan contoh yang baik dan tidak perlu ditiru. Bahkan sudah pernah 2 kali hampir diusir dari rumah, disuruh tinggal di gereja. Toh, saya tidak kapok. Ada yang aneh? Ya, saya aneh. Memang.
Memasuki masa-masa kuliah, saya memutuskan untuk tidak terlibat dalam kegiatan kampus. Oke, jujur saja awalnya saya tertarik ikut Senat/ BEM. Tapi setelah saya amati, kok tidak sejalan dengan organisasi yang sesungguhnya yah. Maka saya putuskan untuk tidak terlibat. Tapi toh bukan berarti saya tidak mengambil kegiatan lain. Saya malah terlibat dalam kegiatan yang lebih besar, skala nasional, yaitu: Kompas Muda. Sudah sejak SMA ingin gabung di Kompas Muda ini, namun baru berjodoh dengan Kompas Muda di tahun 2010, ketika saya sudah kuliah. Di Kompas Muda ini, saya bahkan belajar mengorganisasi acara-acara yang diselenggarakan Kompas dan bersifat Nasional. Hebat? Keren? Ternyata bagi teman-teman di kampus saya, hal ini biasa-biasa saja. Yah, baiklah. Kehidupan farmasi memang sarat dengan tugas-tugas, terlebih lagi laporan praktikum dan beban kuliah yang tampaknya berat.
Ternyata di samping Kompas Muda, saya terlibat lagi di kegiatan olimpiade, menjadi panitia Kunjungan Industri, dan yang paling gak nyambung adalah ikut MUN alias Model United Nations. Well, kalau kamu mau tahu apa itu MUN, please googling. Saya juga pernah posting beberapa pengalaman saya mengikuti MUN. Kenapa ga nyambung? Secara, jurusan saya Farmasi lah wong saya malah ikut MUN yang notabene pesertanya sebagian besar adalah mahaiswa hukum dan hubungan internasional yang memiliki kemampuan ekstra dalam debat dan berbahasa Inggris. Oke, anggaplah ini saya 'tercebur', tapi prinsip saya semua yang dilakukan tidak boleh setengah-setengah, jadilah MUN ini kegiatan utama di kampus.
Kembali lagi ke makna Kebebasan versi saya. Sejak kuliah, orangtua memang tidak terlalu melarang saya dalam mengikuti kegiatan apapun, namun saya tetap berpegang bahwa kebebasan yang saya peroleh adalah hasil dari pembuktian diri saya kepada orangtua saya sejak SMP hingga SMA, sehingga kebebasan ini adalah kepercayaan dari mereka. Jadi, menyalahgunakan kebebasan yang diberikan sama saja menghapus kepercayaan. Berusahalah bertanggungjawab dengan kebebasan yang kamu peroleh.
Regards,
@ichbinsisca
1. Tantangan 30 hari nge-blog (yang ini iseng-iseng, efek ketidak konsistenan menulis di tahun ini)
2. Mulai belajar persiapan untuk TOEFL Prediction Test (ini serius, testnya bulan Februari dan meskipun judulnya cuma "Prediction", everything should be perfect lah ya. :))
Here is the challenge:
Jadi marilah segera memulai tantangan hari pertama: Menceritakan tentang diri sendiri. Well, seperti yang dapat pada halaman Writer di blog saya ini sudah ada profil saya yang cukup jelas. Kalau masih belum jelas, silakan buka halaman Contact terus buka link Linkedin saya, profile lengkap beserta portofolio tersedia. Hahaha. Oke, ini sebenarnya mulai 'ngawur' baiklah kita mulai saja dengan tantangan yang sesungguhnya:
Di saat santai bersama teman-teman kala itu, seorang teman saya bertanya demikian:
"Sis, impian lo mau ke Jeman yah?"
Tanpa ingin membesar-besarkan mimpi itu, saya hanya menjawab 'iya'. Saya tidak ingin terkesan sombong dengan mimpi itu. Tentunya bukanlah hal yang salah bila seseorang memiliki mimpi, kan? Namun tentunya saya tidak ingin merasakan sakitnya terjatuh bila suatu hari nanti impian saya tidak dapat terwujud. Setidaknya, saya hanya akan menghadapi penolakan. Lain halnya bila mimpi itu saya besar-besarkan hingga ketika saya gagal, maka semua orang akan mencibir saya. Penderitaan saya tentunya bertambah: Selain kecewa karena penolakan, tentunya merasa sakit karena mendapat cibiran.
Oh ya, sebelum tulisan ini dilanjutkan, mohon ingatkan saya bila tulisan saya mulai keluar dari topik. Kembali ke masalah tersebut, kemudian pembicaraan kami beralih kepada masa depan dan melanjutkan pendidikan. Ya, memang keinginan saya untuk pergi ke Jerman adalah untuk melanjutkan pendidikan di sana. Ketika salah seorang teman saya yang lainnya menimpali:
"Buat apa lagi kuliah kalau tujuan sudah dicapai?"
Yang lainnya:
"Ketika seseorang semakin bertambah usia, maka standar dari goals yang ingin dicapainya akan berkurang dengan sendirinya."
Kedua kalimat ini tentunya membuat saya berpikir. Namun toh, dasar saya wong ambisius begini mau dibilang gimana juga tetap akan ngotot dengan mimpi tesebut. Untunglah salah satu pendapat lainnya keluar:
"Setidaknya, kalau memiliki mimpi yang tinggi, usaha yang akan kita lakukan juga makin tinggi. Dengan begitu, meskipun goals utama tidak tercapai, pasti kita akan mendapatkan goals yang mendekati goals utama tersebut."
Dengan kata lain, jika saya ingin melanjutkan studi di Jerman dan gagal. Mungkin dengan usaha yang telah saya lakukan, saya akan tetap bisa melanjutkan studi di luar negeri, meskipun bukan di Jerman. Salah satu pengalaman saya terkait hal ini adalah ketika mengubur mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kalau anak-anak ditanya mengenai cita-cita mereka ketika sudah besar, banyak yang akan menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot, insinyur, polisi, dan sebagainya. Namun seiring bertambah luasnya wawasan bahwa bidang pekerjaan itu luas, maka tidak sedikit dari mereka yang beralih dari cita-cita semasa kanak-kanak.
Saya termasuk orang yang memelihara cita-cita itu dengan baik, bahkan ketika saya sudah kuliah hingga di semester 3. Cita-cita menjadi dokter sudah saya inginkan sejak TK, dan keinginan itu pun didukung (lebih tepatnya diarahkan) oleh Papa. Namun nasib berkata lain, tapi toh sekarang saya adalah Calon Apoteker. Sebuah profesi yang serumpun dengan ilmu kedokteran. Mungkin itulah yang tadi dikatakan teman saya, bahwa jikalau gagal pun kegagalan itu akan tetap manis.
Ambisius? Sangat! Menjadi orang yang sangat ambisius terkadang menyusahkan diri sendiri. Dalam hal saya, jika ada hal (lebih sering terkait kegiatan/aktivitas) yang saya inginkan tapi ada halangan untuk berpartisipasi, wah bisa-bisa susah tidur. Entahlah sifat ambisius ini murni karakter atau benarkah nasib. Berdasarkan shio dan zodiak, percaya atau tidak percaya, baiklah kita lihat dari sisi keilmuannya saja: Saya bershio Kambing dan zodiak saya adalah Capricorn. Dari beberapa sumber bacaan kerap kali menuliskan bahwa orang bershio Kambing adalah orang yang keras kepala. Orang yang berzodiak Capricorn adalah orang yang ambisius. Yah, istilahnya kera kepalanya kuadrat. Hahaha. Jika kalian yang membaca tulisan ini pernah mengenal saya, bagaimana menurutmu? ;)
Ah ya, mungkin saya sebaiknya memulai tulisan ini dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Meskipun profile saya sudah tersedia di blog ini, entah mengapa dengan topik ini rasanya kurang afdhol tanpa memperkenalkan diri.
Panggil saja saya Sisca. Saya hanyalah seorang mahasiswa farmasi tingkat akhir yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta. Jika ini adalah tulisan pertama yang kamu baca di blog saya, maka saya sarankan kamu membaca halaman Writer, setelah kamu membaca tulisan ini. Saya juga seorang daily online worker yang bekerja di salah satu publishing di Indonesia. Tunggu! Saya yakin kalian pasti ingin bertanya Bagaimana bisa seorang mahasiswa farmasi kuliah sambil bekerja? Hahaha. Salah satu hal yang penting adalah Time Management! Di samping mahasiswa dan pekerja, saya juga masih menjalankan hobby menulis serta hobby terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Menarik kan? B-)
Jika melihat apa yang sudah saya lakukan selama ini, saya cukup puas dan bersyukur. Tapi, jika melihat pada apa yang terkadang orang lain lakukan, orang-orang hebat yang ada disekitar saya, saya iri. Rasanya kok saya belum bisa seperti mereka ya, sukses. Setidaknya, saya bersyukur saya menyadari bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang hebat seperti mereka. Saya hanya perlu menjadikan mereka motivasi dan sumber-sumber ambisi saya yang lainnya.
Everything must be perfect! Yap, perfeksionis. Lagi-lagi terkadang sifat yang satu ini jadi penolong sekaligus boomerang bagi saya sendiri. I know you know what I mean.
Terakhir, saya adalah orang yang bebas. Bebas melakukan apa yang saya inginkan, saya tak suka adanya larangan dan hambatan. Lagi: Semuanya harus berjalan semulus dan sesempurna mungkin. Tapi, bukan hidup namanya kalau tidak ada hambatan. Setuju?
Tolong garisbawahi makna kata Kebebasan dalam kamus pribadi saya ini: Bebas Bertanggung Jawab.
Jika sudah mengerti, baiklah kita lanjutkan. Saya ingin bebas mengikuti setiap kegiatan dan aktivitas yang saya inginkan dan, hambatan terbesar saya dalam hal ini adalah: Orangtua.
Saya mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan sejak SMP: mengikuti paduan suara, menjadi petugas upacara bendera, mengikuti Pusakris. Hobby ini berlanjut ketika SMA: Saya bahkan pernah mengikuti semua Club di SMA, baik itu Matematika Club, Kimia Club, Biologi Club, Fisika Club, English Club, masih aktif di Pusakris, pernah ikut Tim Kompas MuDA, jadi tim tari tradisional di sekolah, ikut lomba/olimpiade dan beberapa pentas tari, dan yang paling menyita waktu dan tenaga saya adalah aktif di MPK (Musyawarah Perwakilan Kelas), sebuah kelembagaan yang mengawasi segala kegiatan OSIS.
Dan dari semua kegiatan tersebut, sebagian besar saya lakukan TANPA ijin orangtua. Please, ini bukan contoh yang baik dan tidak perlu ditiru. Bahkan sudah pernah 2 kali hampir diusir dari rumah, disuruh tinggal di gereja. Toh, saya tidak kapok. Ada yang aneh? Ya, saya aneh. Memang.
Memasuki masa-masa kuliah, saya memutuskan untuk tidak terlibat dalam kegiatan kampus. Oke, jujur saja awalnya saya tertarik ikut Senat/ BEM. Tapi setelah saya amati, kok tidak sejalan dengan organisasi yang sesungguhnya yah. Maka saya putuskan untuk tidak terlibat. Tapi toh bukan berarti saya tidak mengambil kegiatan lain. Saya malah terlibat dalam kegiatan yang lebih besar, skala nasional, yaitu: Kompas Muda. Sudah sejak SMA ingin gabung di Kompas Muda ini, namun baru berjodoh dengan Kompas Muda di tahun 2010, ketika saya sudah kuliah. Di Kompas Muda ini, saya bahkan belajar mengorganisasi acara-acara yang diselenggarakan Kompas dan bersifat Nasional. Hebat? Keren? Ternyata bagi teman-teman di kampus saya, hal ini biasa-biasa saja. Yah, baiklah. Kehidupan farmasi memang sarat dengan tugas-tugas, terlebih lagi laporan praktikum dan beban kuliah yang tampaknya berat.
Ternyata di samping Kompas Muda, saya terlibat lagi di kegiatan olimpiade, menjadi panitia Kunjungan Industri, dan yang paling gak nyambung adalah ikut MUN alias Model United Nations. Well, kalau kamu mau tahu apa itu MUN, please googling. Saya juga pernah posting beberapa pengalaman saya mengikuti MUN. Kenapa ga nyambung? Secara, jurusan saya Farmasi lah wong saya malah ikut MUN yang notabene pesertanya sebagian besar adalah mahaiswa hukum dan hubungan internasional yang memiliki kemampuan ekstra dalam debat dan berbahasa Inggris. Oke, anggaplah ini saya 'tercebur', tapi prinsip saya semua yang dilakukan tidak boleh setengah-setengah, jadilah MUN ini kegiatan utama di kampus.
Kembali lagi ke makna Kebebasan versi saya. Sejak kuliah, orangtua memang tidak terlalu melarang saya dalam mengikuti kegiatan apapun, namun saya tetap berpegang bahwa kebebasan yang saya peroleh adalah hasil dari pembuktian diri saya kepada orangtua saya sejak SMP hingga SMA, sehingga kebebasan ini adalah kepercayaan dari mereka. Jadi, menyalahgunakan kebebasan yang diberikan sama saja menghapus kepercayaan. Berusahalah bertanggungjawab dengan kebebasan yang kamu peroleh.
Regards,
@ichbinsisca
Label:
challeges,
sekapur sirih
Rabu, 23 Januari 2013
Chicken Soup versi Indonesia, adakah?
Ada sebuah keinginan, cukup menggelitik memang. Ingin adanya keberadaan buku seperti chicken soup di Indonesia. Ataukah sudah ada buku seperti itu?
Hanya ada sedikit harapan dengan adanya buku-buku itu, yakni agar semakin banyak mata yang terbuka, telinga yang mendengar, hati yang berbicara.
Sebuah buku yang bersumber dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Berisi kisah-kisah inspiratif dari siapa saja, dari berbagai kalangan.
Jika memang sudah ada buku-buku seperti itu, tolong beri tahu saya. Tapi jika memang belum ada, mari kita bersama-sama membuka cakrawala.
Kita memberi dan kita belajar tentang arti kehidupan. Kita berbagi bahwa kehidupan ternyata tak semudah yang kita alami, tak seindah yang kita impikan. Disaat berbagi itulah bebanmu terasa ringan, maka dikala beban terasa berat dan merasa sendirian menghadapinya, bagikanlah. Kau akan tahu bahwa kau bukan satu-satunya orang yang menderita dan kau tidak sendirian. Kita belajar, tanpa harus mengalaminya terlebih dahulu. Belajar dari kisah-kisah mereka agar jangan lagi terulang beban yang sama kepadamu.
Ada sebuah pepatah:
Hanya ada sedikit harapan dengan adanya buku-buku itu, yakni agar semakin banyak mata yang terbuka, telinga yang mendengar, hati yang berbicara.
Sebuah buku yang bersumber dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Berisi kisah-kisah inspiratif dari siapa saja, dari berbagai kalangan.
Jika memang sudah ada buku-buku seperti itu, tolong beri tahu saya. Tapi jika memang belum ada, mari kita bersama-sama membuka cakrawala.
Kita memberi dan kita belajar tentang arti kehidupan. Kita berbagi bahwa kehidupan ternyata tak semudah yang kita alami, tak seindah yang kita impikan. Disaat berbagi itulah bebanmu terasa ringan, maka dikala beban terasa berat dan merasa sendirian menghadapinya, bagikanlah. Kau akan tahu bahwa kau bukan satu-satunya orang yang menderita dan kau tidak sendirian. Kita belajar, tanpa harus mengalaminya terlebih dahulu. Belajar dari kisah-kisah mereka agar jangan lagi terulang beban yang sama kepadamu.
Ada sebuah pepatah:
"Jika ada buku yang ingin kau baca dan buku itu belum diterbitkan, maka kaulah yang harus membuatnya."
Jadi untuk itulah saya di sini.
Senin, 12 November 2012
Masih tentang Mimpi
Mimpi? Ya, setiap orang pasti punya mimpi, temasuk gw. Lalu, apa mimpi gw? Mungkin jika gw sebutkan disini kalian akan berkata "Mimpi lo ketinggian" atau "Jangan ngarep deh". Tapi....gw coba share karena sesungguhnya mimpi itu harus setinggi mungkin kan? Jika nanti pada pelaksanaannya kita tak bisa meraihnya, kita bisa turunkan "harga" dari mimpi tersebut. Dan inilah mimpi-mimpi saya:
1. Cum laude, LULUS S1 Farmasi, LULUS Apoteker ontime!
Ya, inilah mimpi yang paling sederhana yang saya miliki sebagai mahasiswa. Bukannya mau sombong karena "Orang lain mau dapet IP 3 aja susah, lu malah mau lebih, bukannya bersyukur!" hahaha. Sungguh, gw bersyukur meskipun saat ini IP tidak bisa cum laude. Hanya saja, mimpi-mimpi gw yang kedua dan ketiga ini berawal dari mimpi saya yang pertama. Hmmm... Sudahlah, karena sepertinya mendapat gelar "dengan pujian" disaat wisuda nanti sudah sulit sekali untuk diraih (bukannya nyerah loh, gw tetap berusaha kok), akhirnya terlontar kata "Yasudahlah yang penting lulus tepat waktu, jangan ngaret. Setidaknya, kalau tidak bisa membanggakan kedua orangtua, yah jangan nyusahin mereka"
Tapi, tetap saja tujuan utama gw kuliah adalah cum laude dan lulus ontime (selain tujuan untuk mendapatkan ilmu, tentunya)
2. Antara Kalbe dan Bayer Indonesia
Tentu saja setelah lulus, gw akan menjadi seorang apoteker dan bekerja. Bekerja dimana? Tentu boleh dong punya target perusahaan yang ingin dimasuki supaya bisa dipersiapkan sejak sekarang. Dari dulu, gw mau banget masuk (kerja) di Kalbe Farma. Nah, saat ini gw juga punya keinginan untuk berkarir di Bayer. Kenapa? Pertama, Kalo Kalbe Farma adalah salah satu perusahaan farmasi lokal yang besar dan berhasil di Indonesia. Bahkan saat ini Kalbe sedang berfokus pada penelitian mengenai kanker. Dan, kenapa Bayer? Bayer merupakan perusahaan farmasi asing (dari Jerman tepatnya) terbesar kedua di Indonesia. Dan, karena gw sangat menyukai Jerman, bagi gw Bayer akan membuka peluang gw untuk ke Jerman dan menuntut ilmu disana. Oleh karena itu, saat ini gw lagi mengasah lagi Bahasa Inggris dengan mengikuti MUN (Model United Nations), karena langsung praktek ngomong cas cis cus :p serta...gw juga belajar bahasa Jerman secara otodidak, online ataupun bertanya ke om gw yang pernah kursus bahasa jerman. :)
3. Being a part of PPI JERMAN
I do love German!!! Gw mau ambil S2 di Jerman (S3 nya di USA bisa kali yah? hahaha.) dan, melakukan penelitian disana! Jerman buat gw adalah negara impian para peneliti, terutama dibidang kesehatan. Rasanya mau banget kuliah disana, meneliti and...I'm sure I'll be back to Indonesia! Nah, ada 2 cara utama untuk bisa meraih mimpi ini. Yang pertama, lewat beasiswa DAAD. Yang kedua, lewat beasiswa perusahaan di Bayer (entahlah, Bayer punya program scholarship untuk karyawannya atau gak). Hmm, gw sih fokus untuk mengejar yang pertama aja dulu, lewat DAAD. Dan berhubung ada 2 orang dosen gw yang mengurusi program DAAD ini, sepertinya saya harus mulai pedekate sama mereke #ehh. hahaha. Ya, lumayan kan, langsung dapat 2 surat rekomendasi nantinya :p
Anyway, judul mimpi ini adalah being a part of PPI Jerman, apa sih PPI Jerman? PPI Jerman adalah Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman. Jadi ya, kalau gw bisa kuliah di Jerman, otomatis akan tergabung menjadi PPI Jerman. #Wishes :)
Gimana? Masih ketinggian ya mimpi-mimpinya? Tenang, santai, fokus, do the best but let it flow, mudah-mudahan bisa tercapai. Dengan doa dan kerja keras, gw yakin bisa!
Nah, ini mimpi-mimpi gw, apa mimpi-mimpi kalian? Share disini ya :)
1. Cum laude, LULUS S1 Farmasi, LULUS Apoteker ontime!
Ya, inilah mimpi yang paling sederhana yang saya miliki sebagai mahasiswa. Bukannya mau sombong karena "Orang lain mau dapet IP 3 aja susah, lu malah mau lebih, bukannya bersyukur!" hahaha. Sungguh, gw bersyukur meskipun saat ini IP tidak bisa cum laude. Hanya saja, mimpi-mimpi gw yang kedua dan ketiga ini berawal dari mimpi saya yang pertama. Hmmm... Sudahlah, karena sepertinya mendapat gelar "dengan pujian" disaat wisuda nanti sudah sulit sekali untuk diraih (bukannya nyerah loh, gw tetap berusaha kok), akhirnya terlontar kata "Yasudahlah yang penting lulus tepat waktu, jangan ngaret. Setidaknya, kalau tidak bisa membanggakan kedua orangtua, yah jangan nyusahin mereka"
Tapi, tetap saja tujuan utama gw kuliah adalah cum laude dan lulus ontime (selain tujuan untuk mendapatkan ilmu, tentunya)
2. Antara Kalbe dan Bayer Indonesia
Tentu saja setelah lulus, gw akan menjadi seorang apoteker dan bekerja. Bekerja dimana? Tentu boleh dong punya target perusahaan yang ingin dimasuki supaya bisa dipersiapkan sejak sekarang. Dari dulu, gw mau banget masuk (kerja) di Kalbe Farma. Nah, saat ini gw juga punya keinginan untuk berkarir di Bayer. Kenapa? Pertama, Kalo Kalbe Farma adalah salah satu perusahaan farmasi lokal yang besar dan berhasil di Indonesia. Bahkan saat ini Kalbe sedang berfokus pada penelitian mengenai kanker. Dan, kenapa Bayer? Bayer merupakan perusahaan farmasi asing (dari Jerman tepatnya) terbesar kedua di Indonesia. Dan, karena gw sangat menyukai Jerman, bagi gw Bayer akan membuka peluang gw untuk ke Jerman dan menuntut ilmu disana. Oleh karena itu, saat ini gw lagi mengasah lagi Bahasa Inggris dengan mengikuti MUN (Model United Nations), karena langsung praktek ngomong cas cis cus :p serta...gw juga belajar bahasa Jerman secara otodidak, online ataupun bertanya ke om gw yang pernah kursus bahasa jerman. :)
3. Being a part of PPI JERMAN
I do love German!!! Gw mau ambil S2 di Jerman (S3 nya di USA bisa kali yah? hahaha.) dan, melakukan penelitian disana! Jerman buat gw adalah negara impian para peneliti, terutama dibidang kesehatan. Rasanya mau banget kuliah disana, meneliti and...I'm sure I'll be back to Indonesia! Nah, ada 2 cara utama untuk bisa meraih mimpi ini. Yang pertama, lewat beasiswa DAAD. Yang kedua, lewat beasiswa perusahaan di Bayer (entahlah, Bayer punya program scholarship untuk karyawannya atau gak). Hmm, gw sih fokus untuk mengejar yang pertama aja dulu, lewat DAAD. Dan berhubung ada 2 orang dosen gw yang mengurusi program DAAD ini, sepertinya saya harus mulai pedekate sama mereke #ehh. hahaha. Ya, lumayan kan, langsung dapat 2 surat rekomendasi nantinya :p
Anyway, judul mimpi ini adalah being a part of PPI Jerman, apa sih PPI Jerman? PPI Jerman adalah Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman. Jadi ya, kalau gw bisa kuliah di Jerman, otomatis akan tergabung menjadi PPI Jerman. #Wishes :)
Gimana? Masih ketinggian ya mimpi-mimpinya? Tenang, santai, fokus, do the best but let it flow, mudah-mudahan bisa tercapai. Dengan doa dan kerja keras, gw yakin bisa!
Nah, ini mimpi-mimpi gw, apa mimpi-mimpi kalian? Share disini ya :)
Label:
apoteker,
challeges,
farmasi,
sekapur sirih
Kamis, 11 Oktober 2012
Someday
Text message received:
"Aku sudah tak sanggup lagi. Aku rasa cukup satu kesempatan dan itu sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu"
"Kenapa? Karena aku atau karena dia?''
Tak ada lagi balasan apapun.
***
Esok paginya, lagi, satu pesan masuk di handphone ku:
"Marvin bilang suka sama aku tapi aku belum jawab. Aku tahu kakak pasti terluka."
"Aku gak apa-apa kok, aku tahu kamu sayang sama Marvin. Aku titip dia ya."
"Iya kak, pasti aku jaga, aku sayang banget sama dia kak."
Tanpa kubalas, tanpa airmata, aku ketikkan sebuah pesan singkat:
"Kamu pergi tanpa alasan dan kini aku tahu alasannya. Aku tidak mau memaksamu. Tapi aku percaya akan cinta kita, Vin, cinta yang selama ini kita kubur, kamu dan aku dan disaat benih itu bertunas, kau cabut begitu saja. Sekali lagi aku akan menunggu kamu, kembali lagi kedalam pelukkanku.
***
Ahh, ya...aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali.
Kita akan mulai lagi bersama
Ya, suatu hari nanti.
Suatu hari, entah kapan saatnya.
***
"Aku sudah tak sanggup lagi. Aku rasa cukup satu kesempatan dan itu sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu"
"Kenapa? Karena aku atau karena dia?''
Tak ada lagi balasan apapun.
***
Esok paginya, lagi, satu pesan masuk di handphone ku:
"Marvin bilang suka sama aku tapi aku belum jawab. Aku tahu kakak pasti terluka."
"Aku gak apa-apa kok, aku tahu kamu sayang sama Marvin. Aku titip dia ya."
"Iya kak, pasti aku jaga, aku sayang banget sama dia kak."
Tanpa kubalas, tanpa airmata, aku ketikkan sebuah pesan singkat:
"Kamu pergi tanpa alasan dan kini aku tahu alasannya. Aku tidak mau memaksamu. Tapi aku percaya akan cinta kita, Vin, cinta yang selama ini kita kubur, kamu dan aku dan disaat benih itu bertunas, kau cabut begitu saja. Sekali lagi aku akan menunggu kamu, kembali lagi kedalam pelukkanku.
***
Ahh, ya...aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali.
Kita akan mulai lagi bersama
Ya, suatu hari nanti.
Suatu hari, entah kapan saatnya.
***
Label:
challeges,
flash fiction,
nulisbuku
Kisah Cinta Renita
Diam. Hening.
Berdiri. Duduk, dan berdiri lagi.
Berjalan ke kanan dan kembali lagi.
Sepi rasanya tanpa Renita disini.
***
“Maaf.”
“Tapi kenapa? Kenapa baru sekarang, setelah 7 tahun
berlalu begitu saja.”
“Maaf. Aku hanya berusaha untuk sabar selama tujuh tahun
ini, Ren”
“Jadi ini alasannya kamu menghilang selama 3 bulan
terakhir? Aku sudah mencari kamu ke semua tempat tapi aku tak bisa menemukanmu,
dan sekarang...”
Hening. Hanya sebuah tarikan nafas yang berat dan isak
tangis yang tertahan yang terdengarlah.”
“Maaf, Ren.”
***
Arbi,
Seandainya kamu mengerti
Seandainya kamu paham
Seandainya kamu tahu kerinduanku disaat kamu pergi
Bii, mungkin kamu benar
Mungkin aku egois
Tapi cobalah mengerti bahwa aku hanya tak ingin
Kehilangan kamu
Seandainya kamu mengerti bi, bahwa sejak kamu
meninggalkan aku saat itu
Seketika juga nafasku berhenti
Dan kini maafkan aku bila tak lagi disampingmu
Renita,
***
“Bi, sudahlah jangan disesali. Renita sudah bahagia
diatas sana, setidaknya dia tak lagi merasakan sakit yang selama ini
dirahasiakannya.”
“Ren, terima kasih, untuk segalanya, untuk arti cinta
selama ini. Mungkin nisan ini pemberian terakhirku untukmu.”
***
Label:
challeges,
flash fiction,
nulisbuku






