RSS

Welcome to Sisca's World
Hope you enjoy reading.

Tampilkan postingan dengan label terpublikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terpublikasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Maret 2014

Rekoleksi Pembina BIA Se- Dekenat Tangerang

*Naskah untuk Majalah Terang*

Pada hari Minggu, 23 Februari 2014 yang lalu Bina Iman Anak HSPMTB beserta beberapa perwakilan dari BIA lingkungan dan wilayah mengikuti Rekoleksi Pembina BIA se-Dekenat Tangerang di Gereja St. Odilia, Citra Raya. Rekoleksi Pembina BIA se-Dekenat Tangerang merupakan kegiatan rutin yang diadakan Dekenat Tangerang setiap tahun. Tahun ini, Rekoleksi mengangkat tema “Kuasa Allah Menyertai Pelayanan Kami”. Meskipun beberapa daerah di Tangerang dilanda banjir, para pembina BIA tetap menghadiri rekoleksi tersebut dengan semangat yang luar biasa. Para pembina BIA berkumpul di paroki untuk berangkat bersama menuju Gereja St. Odilia. Acara rekoleksi dimulai tepat waktu, diawali dengan puji-pujian, doa pembuka dan kata sambutan yang diberikan oleh Ibu Elisabeth Mila selaku Koordinator BIA se-Dekenat Tangerang.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Materi yang dibawakan oleh Romo Felix Suprapto, SS.CC. Romo Felix mengawali sesinya dengan sebuah sharing tentang pengalaman hidupnya menjadi seorang Pastor. Beliau menyampaikan bahwa alasan utama ia menjadi seorang Pastor adalah berkat teladan dari guru sekolah minggunya yang selalu menyertai perjalanannya hingga setelah menjadi Pastor. Melalui kisahnya, Romo Felix ingin menunjukkan betapa pentingnya peran seorang pembina BIA dalam kehidupan Kristiani seorang anak hingga mendapatkan panggilannya. Romo Felix kemudian memulai materinya seputar kasih yang mengalahkan segala godaan dalam pelayanan. Patut disadari bahwa dalam pelayanan, pembina BIA tak luput dari godaan-godaan hidup baik itu godaan materi, keinginan daging, kesalahpahaman dan perselisihan. Namun dengan kasih yang sejati, kita bisa mengalahkan godaan-godaan tersebut. Untuk bisa melayani dengan kasih, para pembina BIA diajak untuk mensyukuri karya Allah, menyadari bahwa dalam pelayanan kita harus siap untuk memberi, siap untuk tersakiti serta dikecewakan, serta memohon kasih karunia Allah.  Romo Felix mengingatkan para pembina BIA agar tidak mudah menyerah apalagi muntaber (mundur tanpa berita).

Selesai Materi I, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dalam kelompok yang sudah ditentukan agar pembina BIA dapat saling sharing mengenai pengalamannya melayani di BIA. Sharing kelompok diakhiri dengan saling memberi tanda salib antar anggota kelompok dengan makna saling menguatkan satu sama lain di dalam pelayanan. Sesi selanjutnya merupakan refleksi diri yang dibawakan oleh Romo Felix. Para pembina BIA diajak untuk berefleksi pada pengalaman melayani terutama bila pembina BIA memiliki beban-beban berat yang telah ditanggungnya. Di akhir sesi kedua, Romo Felix berkeliling sambil membawa salib, dimana masing-masing pembina BIA akan mencium kaki Yesus di salib dan diharapkan pembina BIA melepaskan beban beratnya pada Yesus dan berpasrah pada kehendak Tuhan.

Acara rekoleksi kemudian dilanjutkan dengan misa bersama yang juga dipimpin oleh Rm. Felix dan berakhir sekitar pukul 15.30 WIB. Para pembina BIA kemudian berfoto bersama dan pulang ke paroki masing-masing. Semoga melalui rekoleksi ini, para pembina BIA semakin melayani dengan kasih dan semangat yang besar. Tuhan memberkati!

Sabtu, 28 Juli 2012

Wisata Rohani dan Pengetahuan BIA HSPMTB 2012


"Ini ketiga kalinya saya menjadi ketua panitia, ini kedua kalinya saya menjadi ketua panitia di BIA HSPMTB, namun ini pertama kalinya saya berhasil menyelenggarakan acara dengan cukup baik. Saya pernah gagal maka saya akan berhasil" ( Laurensia Sisca Utami Putri )

Persiapan sebelum berangkat

Dalam rangka menyambut hari libur sekolah, maka Bina Iman Anak Paroki HSPMTB mengadakan Wisata Rohani dan Pengetahuan untuk yang pertama kalinya. Wisata Rohani dan Pengetahuan yang diadakan pada hari Minggu, 15 Juli 2012 yang lalu diikuti oleh 20 orang anak yang didampingi oleh 13 orangtua dan 17 orang kakak-kakak pengajar BIA. Pada acara Wisata Rohani dan Pengetahuan ini kami mengajak anak-anak untuk mengunjungi Gereja St. Catharina TMII sekaligus berwisata dengan mengunjungi beberapa museum di TMII. Pada pukul 06.30 pagi rombongan berangkat menuju TMII. Puji Tuhan, perjalanan yang kami lalui sangat lancar sehingga dapat tiba di Gereja St. Catharina tepat waktu. Sesampainya disana, anak-anak diarahkan untuk mengikuti Bina Iman Anak bersama dengan BIA TMII, sedangkan para orangtua dipersilahkan untuk mengikuti misa yang diadakan di Gereja St. Catharina. Bina Iman Anak bersama antara BIA HSPMTB dan BIA TMII yang dipimpin oleh Kak Dina dan kawan-kawan dari BIA TMII serta dibantu oleh Kak Yesi dari BIA HSPMTB dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 09.30. Acara ini dimulai dari puji-pujian, pembacaan cerita, aktivitas, quiz dan diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari BIA HSPMTB kepada BIA St. Catharina yang diserahkan oleh Koordinator BIA HSPMTB yakni Sdr. Deva. Sesuai dengan tema Wisata Rohani dan Pengetahuan kali ini, yakni “Menjalin Persaudaraan dalam Iman kepada Kristus” maka melalui kunjungan ke Gereja St. Catharina dapat menambah teman baru bagi anak-anak. Setelah mengikuti BIA bersama, anak-anak diajak untuk mengunjungi Gereja St. Catharina dan berdoa bersama.

Lihatlah anak-anak ini menyambut Tuhan dalam hatinya :')

Gereja St. Catharina TMII

Berfoto bersama didepan Gereja St. Catharina dengan Kak Dina, dkk.

Berfoto di Gua Maria Gereja St. Catharina, TMII

Dari Gereja St. Catharina, anak-anak diajak untuk mengunjungi Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Listrik dan Energi Baru serta Museum Transportasi. Di Museum Keprajuritan Indonesia, dipimpin oleh Pak Dadang, anak-anak diajak untuk melihat berbagai diorama perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan serta patung-patung para pahlawan. Dari Museum Keprajuritan, kami menuju Museum Listrik dan Energi Baru. Disana, kami dipimpin oleh Pak Miko yang memberikan penjelasan yang menarik mengenai sumber-sumber energi dan listrik di Indonesia. Anak-anak diberikan tontonan animasi yang menarik serta diakhiri dengan berbagai permainan yang ada di museum listrik dan energi baru ini. Museum yang terakhir yang kami kunjungi, yaitu Museum Transportasi juga memberikan pengetahuan yang tak kalah menariknya, disana anak-anak melihat-lihat sejarah perkembangan transportasi di Indonesia. Setelah puas menikmati berbagai koleksi di Museum Transportasi, kami pun pulang kembali ke Tangerang.

Tepat pukul 17.00 rombongan tiba kembali di Gereja. Rasa lelah karena telah seharian berwisata di TMII tidak menutupi rasa senang yang kami rasakan. Persahabatan, pengalaman baru dan ilmu pengetahuan yang didapatkan melalui Wisata Rohani dan Pengetahuan ini semoga dapat membawa semangat baru bagi adik-adik yang akan memasuki tahun ajaran baru keesokan harinya. Tak lupa, Panitia mengucapkan terima kasih atas segala pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini dan semoga acara ini dapat terlaksana lagi dilain waktu. Kami juga mengajak adik-adik untuk bergabung di Bina Iman Anak HSPMTB setiap hari Minggu pukul 08.30 pagi di Aula St. Maria lt. 3. Tuhan memberkati.



Seluruh Pembimbing BIA HSPMTB


Written by: Laurensia Sisca U.P
Photos by: F.A Deva S.O
Will be published on TERANG magazine, 56th ed, July-August 2012

Kamis, 19 Agustus 2010

Enggak Hafal Pancasila

Enggak Hafal Pancasila? Oops!
Jumat, 21 Agustus 2009 | 04:59 WIB
Tujuh belas Agustus baru beberapa hari berlalu. Upacara dan semarak pesta perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap tahun oleh seluruh masyarakat Indonesia lewat sudah.
Apa lagi yang tersisa? Piala kemenangan lomba makan kerupuk, balap karung, atau panjat pinang dari RT (rukun tetangga), RW (rukun warga), dan sekolah? Apakah setelah mengikuti semua perayaan yang gegap gempita itu, kita jadi makin cinta sama tanah air, Indonesia?
Di sekolah, upacara bendera kini udah makin berkurang frekuensinya. Di SMA Labschool Rawamangun, Jakarta Timur, upacara bendera hanya dilakukan satu bulan sekali, yaitu pada Senin minggu pertama. Di SMA Negeri 98 Jakarta, upacara bendera juga hanya dilakukan dua minggu sekali.
Ehm, jadi enggak heran kan kalau Lita Lestari yang sekolah di Labschool Rawamangun kelas XII IPA, enggak hafal Pancasila.... Oops! Udah pasti dong, lambang masing-masing sila itu pun, dia enggak tahu, hi-hi-hi....
Aldi Prima Putra yang sekolah di SMAN 98 Jakarta kelas XII IPA juga nyaris setali tiga uang. Wakil Ketua OSIS periode 2008-2009 ini kagok saat diminta melafalkan Pancasila. Sila ke-4 dan ke-5 enggak bisa dia lafalkan dengan lancar dan sempurna. Meski Aldi juga anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) di sekolahnya itu.
Enggak cuma soal Pancasila yang udah makin luntur dari ingatan Lita dan Aldi. Mereka berdua juga agak susah menyebutkan beberapa lagu wajib, alias lagu nasional Indonesia selain, tentu saja, Indonesia Raya.
Padahal, lagu-lagu nasional kita banyak sekali, ada ”Syukur”, ”Maju Tak Gentar”, ”Satu Nusa Satu Bangsa”, ”Bagimu Negeri”, dan masih banyak lagi.
Lita cuma bisa menyebut satu lagu, sedang Aldi hanya bisa menyebut tiga lagu. Duhh... prihatin juga nih.…
Ehm, tetapi kayaknya enggak cuma Aldi dan Lita yang seperti itu. Kalau kalian mau jujur, seberapa sih sebenarnya kepedulian kalian pada lagu-lagu nasional Indonesia? Seberapa peduli sih kalian dengan kondisi sosial ekonomi di sekitar kita? Seberapa jauh kita tahu tentang berbagai tarian dan adat istiadat berbagai suku bangsa di Tanah Air ini?
Memprihatinkan
Bu Devi Arnis, guru Sosiologi dari SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengatakan, semangat cinta tanah air di kalangan remaja memang memprihatinkan. Kata Bu Devi, sebagian remaja memang sama sekali tak tahu siapa pencipta lagu nasional kita. Bahkan ada yang enggak tahu sosok Bung Karno dan Bung Hatta.
Tapi, kata dia, sekarang sudah ada kemajuan. ”Mulai ada kesadaran di kalangan remaja bahwa nasionalisme itu perlu. Memang tidak hanya dengan upacara dan hafal Pancasila karena itu hanya satu sisi dari nasionalisme. Tetapi mereka menunjukkannya dengan memakai produk dalam negeri, hafal lagu-lagu Indonesia, dan di sekolah mau ikut ekskul tentang seni tradisional,” kata Bu Devi.
Kepala SMKN 20 Jakarta Haribowo mengatakan, upacara bendera setiap hari Senin dan hari besar nasional seharusnya memang tetap diberlakukan di sekolah-sekolah. Ini setidaknya diharapkan bisa menjaga semangat nasionalisme di kalangan siswa.
Tentang Pancasila, menurut Haribowo, meskipun hafal, Pancasila bagi sebagian remaja hanya dimaknai sebatas kata-kata tanpa makna. Ini saja sudah cukup rawan.
”Jadi, alangkah baiknya kalau upacara itu tetap diberlakukan,” kata Pak Haribowo.
SMKN 20 masih tetap memberlakukan upacara setiap hari Senin dan pada hari besar nasional. Untuk mendukung upaya menjaga semangat cinta tanah air di kalangan siswa, ada ekstrakurikuler berupa karawitan dan paskibra.
Efek upacara
Sisca Utami, siswa kelas XII IPA SMAN 4 Tangerang, termasuk siswa (yang setidaknya) hafal sila-sila dalam Pancasila. Di sekolahnya, upacara masih dilakukan setiap Senin. Mungkin karena seminggu sekali mendengar Pancasila, Sisca hafal saat diminta melafalkan Pancasila.
Dia juga dengan mudah menyebut beberapa lagu nasional, seperti ”Maju Tak Gentar”, ”Indonesia Pusaka”, dan ”Garuda Pancasila”.
”Selalu ikut upacara jelas ada efeknya. Aku jadi bisa ngerasain perjuangan pahlawan zaman dulu. Pas mengheningkan cipta apa lagi.... Kan nundukin kepala, khusyuk, jadi rasanya gimana gitu,” tutur Sisca.
Enggak setiap orang kayak Sisca. Tapi kalo sampai enggak hafal Pancasila kayak Lita dan Aldi, ehm kayaknya enggak pas juga ya.... Apalagi kata Lita, cintanya sama Tanah Air biasanya justru muncul pas dia lagi jalan-jalan ke luar negeri.
Sisca menambahkan, ia memaknai nasionalisme dan cinta Indonesia antara lain dengan memakai produk dalam negeri. Kata dia, dengan memakai batik, misalnya, itu sudah nunjukin rasa cinta Tanah Air.Jangan lupa, Tanah Air kita ini kaya dan luas banget. Kita punya keanekaragaman hayati dan budaya. Mengetahui, mencintai, dan berusaha menjaganya dalam kehidupan sehari-hari adalah bukti cinta kita kepada Tanah Air.

Selain hafal dan mewujudkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, coba deh memulai rasa cinta Indonesia dengan lebih memerhatikan lingkungan, seperti hemat memakai air bersih, hemat listrik, enggak membuang sampah sembarangan, mau berusaha keras, dan enggak korupsi tentunya! (DOE)

nb: asli terbitan kompas muda. hihihy*

Greenpeace