RSS

Welcome to Sisca's World
Hope you enjoy reading.

Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

The truth behind TEAM!

Tulisan ini bersifat membayar hutang. Hutang menulis bulan ini dan hutang cerita. Untungnya bukan hutang piutang sungguhan.

***

Bulan Juni lalu, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu coach dalam Life Camp yang diadakan Merry Riana Learning Center. Acara ini berlangsung pada tanggal 22-28 Juni 2014 bertempat di Hotel Grand Lembang Bandung. Life Camp merupakan program pengembangan diri bagi anak usia 12-18 tahun untuk memahami tentang pengelolaan uang (Money), hubungan dengan sesama (Relationship), memahami gaya belajar untuk menjadi seorang super student (Learning) dan memahami karakter masing-masing dan perannya dalam meraih kesuksesan (Character).


Para coach dan mentor menanti kedatangan peserta Life Camp

Briefing sebelum berangkat menuju Bandung

22 Juni 2014
Sebanyak 120 peserta, 24 coach dan 3 mentor berkumpul. Kita semua dibagi ke dalam 4 House. Ada house Sparta, Apache, Ninja dan Musketeers. Tiap House beranggotakan 30 peserta yang dibagi lagi ke dalam 3 grup sesuai rentang usia peserta. Masing-masing grup memiliki 2 coach. Saya sendiri, bersama seorang teman yang juga dari MRCA Batch 2 menjadi coach Ninja 3.

Bendera masing-masing house

Ninja - Ninja 3
Ninja 3 beranggotakan 10 anak berusia 12-14 tahun. Di awal keberangkatan kami menuju Bandung, keadaan ternyata tidak sebaik dan sekooperatif yang kami bayangkan. Hal itulah yang justru membuat saya sendiri pesimis akan kemenangan tim ini nantinya selama acara.

Di hari pertama hanyalah sesi perkenalan tentang life camp dan apa saja yang akan mereka lakukan selama life camp berlangsung. Di hari selanjutnya, acara utama adalah outdoor games yang menuntut kerja sama tim. Ada 5 permainan yang dimainkan dan permainan ini dikompetisikan antar house untuk mendapatkan sejumlah Life Dollars. Dalam permainan pendahuluan yang sekadar permainan perkenalan, house kami masih beradaptasi dengan keadaan. Namun ketika kompetisi yang sesungguhnya dimulai, barulah semangat kompetisi mereka bangkit. Satu demi satu permainan mereka menangkan hingga akhirnya mereka menjadi juara 1 dalam outdoor games ini dan mendapatkan Life dollars terbanyak. Tidak mudah memang untuk menyatukan house ini dimana semuanya berasal dari latar belakang yang berbeda, tujuan yang berbeda, alasan yang berbeda yang membuat mereka mengikuti Life Camp, tapi satu yang saya lihat dari mereka bahwa mereka sangat menginginkan kemenangan.

Foto House Ninja sebelum Outdoor Games

Di hari-hari selanjutnya, mereka menunjukkan hal-hal yang luar biasa. Mereka menjadi pribadi yang lebih terbuka, lebih berani dan optimis. Meskipun terkadang saya sebagai coach kerap kali pesimis. Saya percaya bahwa inilah tim. Mereka mempunyai tujuan yang sama untuk menang namun seperti tim-tim lainnya di luar sana ataupun seperti house-house lainnya di life camp, pastilah ada beberapa anggota house tersebut yang mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka yang baru.

Saya tidak perlu menjelaskan secara detail apa saja yang kami lakukan selama camp tetapi ketika secara individual kita kita dapat melakukan sesuatu, lakukanlah secara bersama-sama maka keajaiban akan terjadi. Saya sangat bersyukur bisa terlibat dalam batch 1 life camp ini sebagai coach. Mengamati sedikit demi sedikit perubahan yang mereka alami dari awal masuk hingga berakhirnya acara ini, mereka luar biasa. Dari pribadi yang memiliki keegoisan tinggi, perlahan saling menahan egoisme sehingga bisa mencapai kemenangan mereka bersama. From Zero to Hero!

Terkadang lewat kata-kata akan terasa sulit menggambarkan situasi saat itu, maka inilah saya sajikan foto-foto dan video kami selama Life Camp:

Operation Transformation Games


Latihan untuk MRLC Got Talent Performance
 

My Precious - How to find our passions

Belajar dengan mengajar

Built this City - Presentation

Ninja Condomium - by Ninja 1

Markas para Ninja - by Ninja 2

Tempat berlatih para ninja - by Ninja 3

Foto bersama para Ninja


Full body communication - Jason (Ninja 3)

Life dollars yang berhasil kami kumpulkan (ini belum semuanya :p)

Penilaian saat MRLC Got Talent Kategori Acting

Penyerahan medali kemenangan

Jocelyn (Ninja 3) setelah menerima medali championship

Coach dari MRCA Batch 2 (Sisca-Eka-Khezia-Abang)

Mereka yang berulang tahun di bulan Juni

Car Wash - It's time to say thank you and good bye

This video was dedicated for all Ninja, they made me so proud of them. Thank you for joining Life Camp, thank you for listening us, thank you for your achievements!

So, I'll tell you the truth behind all those photos and video:

TEAM is an abbreviation from Together Everyone Achieve Miracles. Yes, we proved it!

Sampai jumpa di Life Camp selanjutnya!


Senin, 28 Juli 2014

Cita-Cita

Masih ingatkah kalian ketika kecil dulu orang-orang bertanya pada kalian, "Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?" atau "Apa cita-cita kamu?" Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab ingin menjadi dokter, polisi, ilmuwan, guru, dsb. Saya pun begitu. Tak pernah terbersit sedikit pun untuk menjadi seorang farmasis seperti sekarang (lebih tepatnya sedang menanti sidang untuk menjadi farmasis).

Saat kecil, cita-cita saya seringkali berubah-ubah. Apa kalian juga begitu?
Pertama kali saya bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tapi ketika teman saya bercita-cita yang sama, saya pun mengganti cita-cita saya.
Lalu saya ingin menjadi fashion designer. Saat itu saya suka sekali menggambar, gambar baju, wanita-wanita cantik, dsb. Tapi ketika sepupu saya juga ingin jadi fashion designer, saya ubah lagi cita-cita saya.
Saya kemudian ingin bekerja dalam sebuah NGO. Kalau dipikir-pikir kok waktu kecil udah tau NGO yah? Hihihi.
Lalu cita-cita itu berubah lagi untuk menjadi seorang ilmuan, berharap bisa membuat sebuah inovasi bagi masyarakat.
Dan...dua cita-cita terakhir yang pada akhirnya membuat saya bingung ketika saya lulus SMA dan harus memutuskan seperti apa hidup saya selanjutnya yaitu: Designer grafis dan Dokter (lagi).

Designer Grafis
Awalnya mengetahui profesi designer grafis ini dari ftv. Haha. Lalu saya melihatnya sebagai pekerjaan yang saya inginkan dan sepertinya cocok dengan diri saya.
Saya suka menggambar sejak kecil, sering juga mengikut berbagai perlombaan menggambar. Di SD, saya ikut ekstrakurikuler menggambar dan di kelas 6 SD dulu pernah menjuarai lomba menggambar.


Gambar saya ketika kelas 6 SD dan menjuarai juara I lomba menggambar se-SD.


Inilah hadiahnya, apresiasi pertama saya dalam menggambar kala itu.

Mungkin karena memang suka sekali menggambar makanya saya sempat punya cita-cita jadi fashion designer. Tapi gara-gara FTV itu tuh (udah lupa judulnya) jadi tertarik banget sama design product, apalagi pas SMP dulu pelajaran menggambarnya lebih ke perspektif ruang, model, benda dan product. Nah, jadilah ketika SMP dulu saya gila gambar. Saya punya satu buku gambar khusus untuk di rumah. Hahaha. Saya juga beberapa kali mengirimkan gambar design product untuk sepatu "PRECISE" (pada tau kan?) dan akhirnya sempat jadi favorit (yeay!). Hadiahnya? Satu buah sepatu baru! Hihihi.
Ketika lomba 17 Agustusan di SMP, saya juga pernah mengikuti lomba menggambar dan hasilnya....saya memenangkan juara 2 se-SMPN 2 Tangerang.

Piala pertama dan satu-satunya yang saya punya di lomba 17 Agustusan ketika SMP dulu (tahun 2006).

Sayangnya, cita-cita ini tak berjalan mulus. Pernah dulu saya dimarahi dan gak boleh menggambar lagi sama papi. Akhirnya saya gak menggambar lagi sejak saat itu. Rasanya sakit, tentu saja. Gimana rasanya kita diminta untuk berhenti dari hobby yang sangat kita suka?

Lepas SMA, saya berniat melanjutkan studi di jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah universitas swasta di Tangerang. Sayangnya ketika sudah mendaftar, tanpa tes karena nilai rapor memenuhi kualifikasi, dapat diskon juga karena rangking, harus saya relakan pula untuk tidak berakhir sebagai seorang designer. Alasannya kampus tersebut jauh dari rumah, sulit dijangkau kendaraan umum, biayanya mahal, software-software dan perlengkapan gambar yang mahal serta tugas anak DKV yang katanya sering lembur.


Saya penikmat seni, tidak hanya seni visual yakni menggambar. Ketika SD, selain menggambar saya juga bermain musik, kala itu masuk tim angklung sekolah. Ketika SMP, saya anggota paduan suara. Saya juga suka menulis puisi-puisi hingga sekarang, beberapa diantaranya sudah dibukukan. Ketika SMA, saya ikut tim tari tradisional di sekolah dan pentas di beberapa event. Rasanya tinggal seni pahat yang belum sempat saya cicipi. Maka, ketika saya harus merelakan jurusan DKV ini, saya berpikir bahwa saya tetap bisa melakukannya meskipun bukan sebagai profesi utama saya. I love arts.


Dokter
Cita-cita yang paling melekat bagi saya adalam menjadi dokter. Menjadi dokter bukanlah cita-cita saya pribadi tapi juga cita-cita keluarga. Kalau ketika kecil alasan ingin menjadi dokter adalah ingin menolong orang banyak, maka ketika SMA saya ingin menjadi dokter karena saya ingin berguna bagi keluarga; papi yang diabetes, nenek yang punya tekanan darah tinggi dan penyakit dalam dan adik saya yang autism.
Cita-cita ini hanya bisa dicapai jika saya masuk Perguruan Tinggi Negeri. Beberapa kali saya mengikuti jalur PMDK, jalur tes mandiri, tes UTUL UGM, tes SIMAK hingga SNMPTN. Tidak ada satupun yang tembus. :') Entah nasib atau saya yang memang kurang berusaha kala itu. Akhirnya cita-cita ini pun pupus begitu saja. Mau dapat ilmu aja kok susah ya? Bahkan 2 tahun setelah lulus pun, cita-cita ini tetap ada: FKUI. Kalau diingat-ingat perjuangan ini, sedih banget rasanya. Hehe. :')

Farmasis
Setelah gagal di berbagai tes PTN yang ngotot mau jadi dokter, akhirnya saya sempat mendaftar jurusan:
Akuntansi.
Sempat daftar dan diterima di salah satu STIE di Jakarta, lagi-lagi tanpa tes dan dapat beasiswa. Tapi lagi-lagi harus saya lepas karena saya gak minat. Ohh, maafkan tapi jujur memang saya ga tertarik untuk masuk jurusan ini. Hati kan tak dapat dibohongi ya? #eh. Tapi daftar di STIE ini sebagai cadangan daripada ga bisa langsung kuliah. Hahaha. Wahai kalian anak muda jangan seperti ini ya, saya contoh ga baik di sini. :'(

Akhirnya setelah terombang-ambing kesana-kesini, saya disarankan untuk masuk Farmasi. Awalnya mami kenal sama tetangga yang kebetulan mahasiswi Farmasi di kampus saya sekarang. Setelah beberapa kali tanya-tanya akhirnya mami sarankan saya untuk masuk Farmasi. Kebetulan mami juga pernah kerja di apotek (meskipun bukan apoteker) jadi tau sedikit hal tentang obat-obat.
Setelah melalui pertimbangan, doa dan tangisan saya memutuskan untuk mengambil jalan ini. Empat tahun sudah berlalu tapi saya masih bertanya-tanya "Apakah jalan yang saya ambil ini sudah benar?"

Meskipun begitu saya menjalani kehidupan sebagai mahaiswa farmasi dengan enjoy. Saya kembali memiliki mimpi-mimpi yang baru yang akan saya capai 5 tahun lagi. Saya ingin melanjutkan S2 saya di negeri Farmasi.
Semoga kali ini tidak lagi seperti menjalani kisah S1 dulu yang terombang-ambing.
Kelak saya ingin meraih gelar Master ataupun PhD saya di kampus ini:


Semoga tidak hanya sekadar menjadi cita-cita.
Sekarang tinggalah waktu pembuktian untuk menyelesaikan S1 dan studi profesi terlebih dahulu.
Tuhan memberkati.

Bagaimana dengan cita-citamu?

Hidup hanya akan bermakna jika kita memiliki mimpi. Mimpilah yang akan membuat kita bertahan dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Mimpilah yang akan menentukan seberapa keras kita akan berjuang dalam hidup. Karena itu, bermimpilah!
Mungkin mimpimu sulit digapai, mungkin tak semuanya dapat tercapai. Sama sepertiku yang memiliki banyak mimpi ketika kecil. Aku mungkin tak bisa meraih semuanya. Tapi yang bisa aku lakukan adalah melakukan yang terbaik untuk mimpiku saat ini dan mimpiku di masa yang akan datang.

---

Tangerang,
Juli 2014

Kamis, 03 Juli 2014

I Got It! :)

Masih seputar MRCA, kali ini MRCA sudah memasuki Monthly Meeting ke-5 di bulan Juni. *yeay* 6 months ahead to go.

Monthly Meeting MRCA memang selalu berbeda tiap pertemuannya, jadi ga pernah bosen walaupun durasi pertemuan selalu 5 jam (Outing 7 jam. Hihi). Kalau di Monthly Meeting #2, ada perkenalan leaders terpilih dan pemilihan exco, di Monthly Meeting #3 ada Outing yang superrr seru, di Monthly Meeting #4 menghadiri Book Launch Langkah Sejuta Suluh di Gramedia Central Park yang amazing...

Kali ini...
Di Monthly Meeting #5 ada pemilihan President and Vice-President MRCA secara pemilu. Detailnya saya ceritakan kalau sudah ada yang terpilih saja ya biar surpriseee. Hehe.
Ada juga pengumuman pemenang sales project LSS, yang ternyata peringkat teratas adalah House Exclusive dengan total penjualan 200 buku diikuti dengan House Shiny dengan total penjualan 136 buku.
Ada juga penentuan TOP HOUSE untuk Triwulan kedua yang kali ini jatuh kepada House Exclusive (lagi). Hahaha. Selamat guys, you did good job!

Dan, ini yang paling penting...
Ada pengumuman TOP MRCA untuk periode Januari-Maret 2014 dan ketiga orang itu adalah:
1. Marinna, (House Chief)
2. Sisca Utami (ME!), (EXCO)
3. Thomas Ardi, (Anggota MRCA)

Yap! I got it! Sebelumnya ga pernah berpikir akan mendapatkan award ini di awal dan sebenarnya lebih berharap dapat awardnya di akhir-akhir periode aja karena akan lebih bangga kalau kita bisa menyelesaikan satu periode dengan baik. Haha.

Tapi... penghargaan ini pun patut disyukuri dan seharusnya memotivasi saya untuk do the best lagi dan lagi.

Me and my certificate

Me, Ardi and Marinna

Me and my Operation Mentor, Sri Mulyati

Me and My beloved mentor, Miss Merry Riana

Me and My beloved mentor, Mr. Alva Tjenderasa

Thank God, I got it!
Thank you dad and mom yang meski ga setuju saya ikut MRCA tapi ga pernah melarang untuk meeting.
Thank you Pak Alva dan Miss Merry yang sudah memberikan saya kesempatan untuk belajar bersama kalian, dipercaya menjadi leaders dan kini diberi award sebagai Top MRCA
Thank you Team Operation: Khezia, Valent, Puput, Kevin untuk bantuan dan kerja kerasnya selama ini di tim Operation, Edwin dan Haris yang sudah men-challenge me. Kalian semua berperan dalam pencapaian ini.
Thank you House Shiny: Khezia, Sisil, Puput, Rani, Meike, Steven, Rachmat, Haris, Fiqri, Marchelo, dukungan kalian sangat sangat berarti.
Thank you all member MRCA, karena telah secara kooperatif dengan exco operation dalam menjawab follow up-follow up yang aku lakukan ke kalian.
Thank you para Leaders, yang seringkali meluangkan waktunya untuk sharing, belajar bersama, meeting bersama, suka duka bersama. Terima kasih atas kerja sama kalian. Bangga punya kalian. {}
Thank you teman-teman kosan yang selama ini support saya sejak seleksi awal masuk MRCA sampai sekarang. Tanpa motivasi kalian mungkin saya ga akan ada di titik ini.

Saya percaya untuk selanjutnya teman-teman MRCA yang lain pun bisa mendapatkan Top MRCA, lakukan tugas-tugas kalian dengan baik, lakukan dengan hati yang ikhlas, berikan yang terbaik, jalankanlah komitmen yang sudah kalian buat. Saya yakin kita bisa!

Saya sendiri tidak tahu mengapa saya terpilih pada triwulan pertama ini. Saya anggap ini sebagai anugerah dan bonus dari semua yang sudah saya lakukan. Semoga award ini bisa memacu saya untuk terus berkontribusi dengan lebih baik lagi.

Live Your Best Life for Indonesia!

***

Note:
Banyak sekali sharing yang ingin saya bagikan, tolong anggap sebagai hutang saya sama kalian ya. Di kesempatan selanjutnya, saya ingin sekali sharing tentang:
- Monthly Meeting #3 (Outing)
- Monthly Meeting #4 (Book Launch)
- Hasil Pemilihan President-Vice President
- Pengalaman saya di Life Camp
- Syuting Michael Merry Menginspirasi
- Hari Kartini bersama Zalora ID
- Project Sales LSS
Dan....
tentu saja soal SKRIPSI. Hahaha.
Wah banyak banget utangnya, tapi sekarang saya harus kembali menikmati revisian dulu demi masa depan yang lebih cerah. LOL.
See you later!

***





Rabu, 02 Juli 2014

Leaders MRCA 2014

Enam bulan sudah saya bergabung di Komunitas MRCA (Merry Riana Campus Ambassadors). Masih ada satu hal yang menjadi hutang saya untuk diceritakan yakni pengalaman menjadi salah satu dari 17 leaders di komunitas ini.

Di pertemuan pertama MRCA, kami diinfokan bahwa akan dipilih 17 leaders untuk menjalankan organisasi MRCA ini dan siapapun boleh mendaftar menjadi leaders. Syaratnya hanya satu: KOMITMEN 100%. Dengan keyakinan dan niat sejak awal masuk MRCA untuk menjadi leaders, maka usai pertemuan itu saya langsung mendaftar.

Prosesnya tidaklah mudah, karena ada sebuah tes lagi yang harus dijalani untuk bisa terpilih menjadi leaders. Kali ini test dilakukan langsung oleh Pak Alva selama 3 jam.

Beberapa hari kemudian saya mendapat email bahwa saya lolos seleksi Leaders dan sejak saat itu setiap hari Sabtu saya harus mengikuti Leaders Meeting bersama Pak Alva di kantor MRI.

Di Leaders Meeting pertama, komitmen kami diuji. Kawasan Green Garden banjir, tapi demi komitmen kami maka hujan badai banjir sepaha pun kami lalui bersama-sama.

Pertemuan pertama leaders ternyata belum menentukan apakah kita akan menjadi exco (executive committee) ataukah house chief, tapi lebih mencari tahu dimanakah kelebihan kita sehingga kita bisa mengoptimalkan kemampuan kita menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya di pertemuan selanjutnya, terbentuklah susunan leaders berikut:
House Chief:
Funtastic: Chai Yun
Rhythm: Abang
Istimewa: Mico
Exclusive: Marinna
Network: Andy (dipindahkan dari house Rhythm utk menjadi house chief di Network :))
Domino: Jean
Shiny: Khezia

Exco:
Operation: Sisca (ME!)
Events: Filemon
Sponsorship: Grace Tania
Merchandise: Charlie
Publication: Eka
Membership: Melinda
Documentation: Cindy
Social Media: Stella
TV Research & Pre-Production: Jessica
TV Post-Production: Fella

Anggota exco kami pun belum dipilih karena masing-masing MRCA boleh memilih exco yang mereka inginkan sendiri pada saat Monthly Meeting #2. President and Vice-President juga belum dipilih karena untuk tahun ini pemilihan President dan Vice-President dilakukan secara pemilu oleh seluruh anggota MRCA, MRI, Miss Merry dan Pak Alva, yang baru saja dilakukan di Monthly Meeting ke-5 yang lalu (Juni 2014).

Dan di meeting-meeting selanjutnya barulah kami diberitahu target exco masing-masing. Wah, what a challenge pokoknya. Tapi untungnya kita disini untuk belajar jadi saya merasa selalu ada panduan utnuk melangkah, tempat untuk bertanya dan jadi merasa tidak perlu takut salah. Untungnya, saya punya mentor yang luar biasa di exco Operation ini yakni Kak Sri Mulyati. *yeay*

Banyak sekali pelajaran selama mengikuti Leaders Meeting, rasanya rugi kalau ikut MRCA sebagai anggota biasa karena justruuu ilmu nya banyak sekali di meeting leaders ini langsung diarahkan pula oleh Pak Alva. So, leaders meeting menjadi kegiatan yang paling saya tunggu-tunggu setiap Sabtu.

Memiliki sebuah pencapaian, tentunya harus ada pengorbanan. Waktu. Tapi buat saya, waktu yang saya korbankan worth it dengan apa yang saya dapatkan.

Berikut ini sebagian besar anggota Leaders saat Leaders Meeting:


It's not about how you start but it's about how you finish.

Saya menyadari bahwa terpilih menjadi leaders bukanlah akhir usaha saya, tapi bagaimana saya tetap bisa menjalankan tugas saya sebagai leaders dengan baik sampai akhir periode nanti. Dan...masih ada 6 bulan lagi untuk membuktikannya. :)

Fyi aja sih, untuk di exco saya, yaitu exco operation memiliki 7 anggota yaitu:
1. Saya sendiri, Sisca Utami
2. Khezia Stevi
3. Rossana Valent
4. Puput Tripeni
5. Kevin Wira
6. Edwin Marcel
7. Haris Bashori
dan...hal-hal yang kami kerjakan diantaranya:

1. Mengirimkan email blast MM ke seluruh MRCA
2. Follow up kehadiran MRCA
3. Memantau strike MRCA dan mengirimkan Strike Report dan Strike Reminder
4. Membuatkan surat-surat yang diperlukan MRCA
5. Melakukan pendataan ulang database MRCA
6. Mengontrol grup internal MRCA
7. Bertanggung jawab atas kegiatan Monthly Meeting
8. Melakukan pelaporan keuangan untuk setiap kegiatan MRCA.

Banyak? Berat? Mungkin. Tergantung bagaimana kamu memandang tugas-tugas tsb dan merasakannya. Kalau saya memilih untuk menjalaninya dengan enjoy, saya juga punya tim yang capable dan bisa diandalkan dan saya bangga punya mereka.

Terima kasih Pak Alva dan Miss Merry yang sudah memilih saya menjadi salah satu leaders. I'm happy, it's an honour for me and I'll do my best!

Selasa, 25 Maret 2014

Monthly Meeting #1 MRCA

Well, saya sedang ingin berbagi mengenai MRCA semampu saya. Oleh karena itu dalah satu hari ini semua post saya mengenai MRCA semua karena sejujurnya 1 post tidak bisa mewakili semua yang ingin saya sharingkan kepada kalian semua. :)
Kali ini mengenai Monthly Meeting pertama saya sebagai MRCA 2014. Monthly meeting dilaksanakan tanggal 25 Januari 2014. Sebelum monthly meeting, beberapa MRCA sepakat untuk bertemu lebih dahulu agar menghindari awkward moment nantinya. So, terkumpullah 15an orang yang hadir pada pra-MM tersebut di Central Park, 14 Januari 2014. Acaranya hanya sekadar perkenalan aja sekaligus mengakrabkan diri. :)
Tibalah Monthly Meeting pertama, 25 Januari 2014 bertempat di Kantor Merry Riana Indonesia di kawasan Green Garden, Jakarta Barat. Pada pertemuan pertama ini hanya memperkenalkan mengenai MRCA dan apa saja yang akan dilakukan selama setahun kedepan. Kami juga dibagi-bagi kedalam 7 kelompok yang dinamakan House, which are:
F = Funtastic
R = Rhythm
I = Istimewa
E = Exclusive
N = Network
D = Domino
S = Shiny
Saya sendiri bergabung dengan House Shiny yang mayoritas bertempat tinggal di Depok, Bogor dan Jakarta Selatan. House ini yang akan menjadi rumah kita selama setahun kedepan untuk menjalankan project-project bersama-sama.
Dalam pertemuan pertama ini, kami diberitahu mengapa kami terpilih sebagai MRCA, yaitu karena kami memiliki ISI (Inspirasi, Sukses dan Indonesia). Namun kami masih ingin belajar, oleh karena itulah kami bergabung dalam komunitas belajar ini. Miss Merry memberi tahu bahwa ada 3 rahasia untuk belajar, yakni: Partisipasi, Open Mind dan Action! Semua hal yang beliau ajarkan tentu tak ada gunanya jika kita tidak melakukan action.
Selanjutnya, kegiatan MRCA selama satu tahun kedepan selain mengikuti pertemuan bulanan (Monthly Meeting), kami juga akan melakukan Outing, Charity, Seminar dan terakhir Camp yang menjadi penutup masa belajar kami selama 1 tahun.
Sebagai MRCA, kami diharuskan menerapkan MRCA Culture yaitu Love, Trust and Respect. Love means no PDA, no soliciting and no borrowing. Trust in sharing and intellectual properties. Respect means be punctual, be accountable and having good manner (please, thank you and sorry).
Dalam setiap MM, selalu ada teori yang dipelajari, simulasi untuk memahami teori tersebut, diskusi dan sharing serta project-project house maupun tugas individual yang mengasah life skills kami. Senangnya lagi, di akhir acara selalu ada perayaan ulang tahun, sesi foto bersama Miss Merry dan...menyanyikan lagu Indonesia Raya.
I'm proud to be Indonesian and I'm proud to be a part of MRCA 2014.
Me and Miss Merry Riana

My House: SHINY
SHINY: We are Smart, Special and Love to Share. We are SHINY!

Jumat, 17 Januari 2014

A Day with Miss Merry Riana and Now Here I Am

Banyak hal menarik yang terjadi di sepanjang tahun 2013 dan terkadang saya lebih suka menyimpannya sendiri tanpa perlu dipublikasikan. Namun, ada satu hari yang sangat mengesankan bagi saya sebagai penutup tahun 2013: 17 Desember 2013. Begitu banyak memori yang masih melekat di pikiran saya dan saya pikir akan lebih berguna bila saya membagikan pengalaman tersebut dalam blog ini.

17 Desember 2013 yang lalu saya mengikuti Seleksi Tahap Akhir pemilihan Merry Riana Campus Ambassador 2014 di APL Tower, Central Park. Merry Riana adalah seorang tokoh motivator wanita no.1 di Asia, seorang artis, presenter, penyanyi dan juga pengusaha yang sukses. Di usianya yang ke 26 tahun, ia telah meraih penghasilan sebesar 1 juta dolar Singapura berkat sebuah mimpinya. Pada usianya yang ke-20, Merry Riana bermimpi untuk bisa bebas dari segala kesulitan finansial sebelum berusia 30 tahun dan ia berhasil mewujudkan mimpinya tersebut di usianya yang ke-26. Pada usianya yang ke-30 tahun, Merry Riana memiliki resolusi baru yaitu untuk menginspirasi 1 juta orang di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukannya untuk mewujudkan resolusi tersebut adalah dengan mengadakan Merry Riana Campus Ambassador (MRCA) yang merupakan sebuah program mentoring gratis untuk mahasiswa di Jabodetabek. Kegiatan mentoring tersebut dilakukan langsung oleh Merry Riana dan Pak Alva, suaminya.

Tahun ini merupakan tahun kedua diselenggarakannya MRCA. Seperti angkatan sebelumnya, hanya dipilih 60 mahasiswa terbaik se-Jabodetabek yang akan dimentori langsung oleh Merry Riana. Jika pada tahun sebelumnya jumlah pendaftar berjumlah sekitar 1500 orang, tahun ini jumlah pendaftar MRCA 2014 berjumlah 3000 pendaftar. Sungguh sebuah persaingan yang ketat untuk bisa menjadi 60 mahasiswa terbaik yang beruntung tersebut.

Saya sendiri sudah mengenal Merry Riana sejak 2 tahun lalu sebelum diselenggarakannya MRCA Batch 1, saat itu saya belum pede untuk mendaftar. Tahun ini, saya putuskan untuk mendaftar karena ini merupakan tahun terakhir saya menjadi mahasiswa, I think I should do the best, the right one. Seleksi tahap pertama merupakan seleksi CV, ada sekitar 3000-an pendaftar dan diseleksi menjadi 400 orang. Pada tahap kedua diberikan 5 pertanyaan yang harus dijawab seputar Merry Riana, dari seleksi tahap 2 ini akan dipilih 200 orang. Lolos dari tahap kedua, saya mengikuti seleksi tahap ketiga, jujur seleksi ini cukup menyulitkan saya. Saya diminta untuk membuat video tentang "Aku & Merry Riana" berdurasi sekitar 3 menit yang harus diupload ke youtube. Dalam email tersebut dikatakan bahwa penilaian akan dilakukan berdasarkan isi sharing, energi, kreativitas dan hasil akhir. Yang menyulitkan adalah waktu yang diberikan cukup singkat, sekitar 1 atau 2 hari kalau tidak salah. Alhasil video yang saya buat sangat sederhana, tanpa editing, namun saya coba menguatkan video tersebut dari isi sharing dan energi yang saya keluarkan ketika berbicara. And, it worked! Check out my video here:



Thank you Lord! Akhirnya saya sampai di seleksi tahap akhir. Peserta harus datang dengan office suit pada 17 Desember di APL Tower Central Park dari pukul 10.00-18.00 WIB. Bisa bayangkan seleksi seperti apa yang berlangsung selama 6 jam itu? Awalnya saya pikir itu hanya interview biasa, ternyata sungguh seleksinya cukup berat. Pertama, seleksi dilakukan langsung oleh Miss Merry dan Mr Alva, dibantu oleh beberapa MRCA Batch 1 dan team MRI (Merry Riana Indonesia). Peserta yang hadir lebih dari 200 orang, mungkin sekitar 217 orang dan dibagi menjadi 10 kelompok. Saya termasuk ke dalam kelompok 4. Kedua, waktu seleksi yang lama itu sangat menguras tenaga apalagi perjalanan bolak-balik Depok-Jakarta Barat yang cukup melelahkan. Ketiga, persaingan yang ketat antar peserta, dari ke 200 peserta semuanya potensial, berbakat dan saling berlomba menunjukkan "their best self". Saya pun begitu karena tidak mau usaha saya selama ini sia-sia :)

Acara dimulai tepat pukul 10.00 pagi langsung oleh Miss Merry. Diawali oleh semangat dan yel-yel MRCA, Merry Riana menularkan semangat berjuang bagi para kandidat MRCA. Merry Riana juga mengingatkan satu pesan untuk menjadi BAM! "Be Always Memorable". Setelah pembagian kelompok dan mentor (masing-masing kelompok mendapat 2 mentor, kala itu mentor saya adalah Kak Kiky dan Kak Sandy), dimulailah Sesi I. Sesi I diawali dengan memperkenalkan diri masing-masing peserta dan motivasi mengikuti MRCA, lalu dilanjutkan dengan menganalogikan diri kita masing-masing sebagai hewan di masa kini dan di masa yang akan datang. Kala itu saya menganalogikan diri saya yang sekarang sebagai Kambing dan diri saya di masa yang akan datang sebagai Kuda. Tidak perlu saya jelaskan alasannya ya :) Kalau kamu pilih hewan apa? Tiap kali presentasi, masing-masing peserta hanya diberi waktu 1 menit, jadi kita harus bicara yang singkat, padat, jelas dan tepat sasaran! Jangan sampai merugikan teman kelompok kita yang lain sampai tidak bisa presentasi.

Sesi II, merupakan sesi kelompok dimana masing-masing kelompok harus membuat suatu keputusan. Miss Merry memberikan 2 keadaan yang harus dipilih:
"Ada 2 rel, satu tidak digunakan dan satunya digunakan, pada rel yang tidak digunakan ada 2 anak kecil sedang bermain. Dan pada rel yang digunakan ada 3 anak kecil. Kereta akan melaju dengan segera. Mana yang harus dipilih, apakah membiarkan kereta pada jalurnya (menabrak 3 anak kecil) atau berpindah jalur (menabrak 2 anak kecil)?"
Apapun jawabannya, satu hal yang penting yang disampaikan Miss Merry:

"What is right isn't always be popular and what is popular isn't always right."

Selesai Sesi II, diberi waktu untuk ishoma dalam waktu yang singkat, hanya sekitar 45 menit dan kita diminta untuk on time kembali ke tempat acara untuk memulai sesi III. Dalam Sesi III, kita bermain games dalam kelompok yang menguji kekompakkan kelompok tersebut. Kelompok 4 waktu itu salah 2 pertanyaan. :p Setelahnya, ada sesi terakhir yaitu sesi yang paling menegangkan. Tiap kelompok kecil dibuat menjadi kelompok besar, dimana 1 kelompok besar terdiri atas 2 kelompok kecil. Kelompok 4 menjadi satu kelompok dengan kelompok 3, dan ada beberapa anggota kelompok yang ditukar posisinya. Ada apa dengan sesi terakhir? Saat itu kak Sandy hanya berpesan "Do your best!"

Ternyata, sesi terakhir adalah sesi interview. Untuk kelompok besar 1 (kelompok kecil 1 dan 2) diinterview langsung oleh Miss Merry dan untuk kelompok besar 2, kelompok saya diinterview langsung oleh Pak Alva. Entah bisa dibilang beruntung atau tidak karena kelompok besar 3, 4 dan 5 diseleksi oleh MRCA Batch 1. Rasanya? Jangan ditanya, pasti campur aduk: Senang sekaligus bangga bisa diinterview langsung oleh Pak Alva, gugup, nervous, takut seakan-akan mau disidang dan rasanya hidup dan matinya seluruh perjuangan di MRCA ada di detik itu juga. Sebelum sesi interview dimulai, Pak Alva memberikan pesan yang intinya:

"Do your best, tunjukkan apa yang membuat kami harus memilih kamu sebagai MRCA. Kalau di kelompok tadi kamu masih malu-malu, lupakan. Ini kesempatan terakhir, keluarkan semua potensimu, tunjukkan prestasi kamu, jangan takut disebut sombong karena saat ini kalian sedang berjuang untuk menjadi yang terbaik."

Saat itu saya tidak langsung maju, saya berpikir apa yang harus saya katakan di depan Pak Alva. Ketika maju, rasa nervous semakin menjadi-jadi dan semua yang ingin saya katakan ternyata tidak cukup karena waktu yang diberikan hanya 1 menit. Saya kembali ke tempat duduk dengan perasaan menyesal. I thought I didn't do my best. But I always hope for the best. Ternyata pengumumannya tidak langsung diumumkan. Satu hal unik yang saya pikirkan; waktu itu saya sudah membawa semua buku Merry Riana yang saya punya dan berniat minta tanda tangan dan foto bersama. Tapi hal itu tidak saya lakukan dengan harapan saya bisa terpilih menjadi MRCA jadi saya akan punya banyak waktu untuk meminta tanda tangan dan berfoto bersama beliau. What a good mindset, isn't it? Di akhir acara, Miss Merry mengajak semua peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengingatkan saya pada quote dalam bukunya:

"You can take me out from Indonesia, but you can't take Indonesia out from me." *Proud*

She also said:

"Mungkin banyak dari kalian yang akan dikecewakan. Tapi kegagalan bukan akhir segalanya. Lebih baik gagal daripada tidak pernah tahu rasanya berjuang. Usaha yang baik akan memberikan hasil yang baik. Jika kali ini hasilnya masih belum baik, maka artinya perjuangan belum selesai. Best of luck for us!"

***

Dan pada tanggal 3 Januari yang lalu saya menemukan account twitter MRCA2014. Wah saya pikir saya ga lolos nih, karena ga terima email apapun. Saking penasarannya, saya cek spam email dan... *jreng jreng jreng* I'M CHOSEN TO BE A PART OF MRCA 2014! Ternyata emailnya masuk spam tertanggal 28 Desember 2013. Oh Thank you Lord! Untung bacanya belum telat ya, monthly meeting pertamanya masih tanggal 25 Januari. Hihihi :) So, this is where I am now as a part of MRCA, chosem from 3000 applicants as 60 best and lucky students in Jabodetabek. Thank you so much Miss Merry, Mr Alva, MRCA Batch 1 and MRI team for choosing me. I consider this as the best present ever for my birthday. It's priceless! Once again, tons of thanks! And welcome my new family of MRCA 2014 :) {}


Group 4 at Final Selection MRCA 2014 with Miss Merry Riana
Photo by Fentra.